7 Hari Menembus Waktu: Ketika Patah Hati Membawamu Mundur 20 Tahun
Judul: 7 Hari Menembus Waktu
Penulis: Charon
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit pertama: Maret 2010
Tebal: 176 halaman
Penulis: Charon
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit pertama: Maret 2010
Tebal: 176 halaman
Genre: Teenlit, fantasi, romansa, perjalanan waktu
Patah hati memang bisa membuat seseorang melakukan banyak hal.
Ada yang menangis semalaman. Ada yang menghapus semua foto mantan. Ada yang tiba-tiba rajin olahraga. Ada juga yang mendadak membuat status penuh kutipan bijak seolah baru selesai mengikuti seminar motivasi tiga hari tiga malam.
Tapi nasib Marissa sedikit berbeda.
Gadis berusia delapan belas tahun ini sedang berada dalam salah satu periode paling menyebalkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan Michael kandas setelah tiga tahun berpacaran, dan situasi menjadi semakin tidak menyenangkan ketika Michael justru dekat dengan Selina—orang yang memang sejak awal tidak pernah akur dengannya.
Saat terpaksa menghadiri sebuah acara di Gedung Albatross, Marissa kembali bertemu dengan dua orang yang sebenarnya paling ingin ia hindari.
Patah hati, kesal, dan merasa orang-orang di sekitarnya tidak memahami perasaannya, Marissa memilih menjauh dari keramaian.
Lalu ia menemukan sebuah lukisan misterius.
Judulnya:
Menembus Waktu.
Menurut keterangan yang terpasang di bawahnya, lukisan tersebut konon mampu mengabulkan permohonan. Marissa tentu saja tidak percaya. Tetapi dalam kondisi emosi yang sedang berantakan, ia mengucapkan sesuatu di depan lukisan itu.
Dan setelah itu…
hidupnya berubah.
Karena ketika Marissa kembali menyadari keadaan di sekelilingnya, ia tidak lagi berada di tahun 2008.
Ia berada dua puluh tahun di masa lalu, tepatnya pada tahun 1988.
Nah, sampai di sini saja sinopsisnya.
Karena sisanya jauh lebih menyenangkan kalau ditemukan sendiri. 😄
Perjalanan Waktu Tanpa Membuat Kepala Pusing
Meskipun premis utama novel ini adalah perjalanan waktu, 7 Hari Menembus Waktu bukanlah fiksi ilmiah berat.
Tidak ada penjelasan panjang tentang relativitas.
Tidak ada mesin penuh kabel dan lampu berkedip.
Tidak ada ilmuwan berdiri di depan papan tulis sambil mengatakan,
“Secara teoritis, jika ruang-waktu melengkung—”
Tenang saja.
Konsep perjalanan waktu di sini digunakan sebagai jembatan untuk membawa tokoh utama memasuki pengalaman yang tidak mungkin ia peroleh dalam kehidupan normal.
Karena itulah pembaca yang biasanya menghindari genre science fiction tetap bisa menikmati novel ini dengan mudah.
Yang menjadi fokus bukanlah pertanyaan bagaimana seseorang bisa menembus waktu, melainkan:
apa yang terjadi ketika seseorang mendapatkan kesempatan melihat kehidupan dari sudut waktu yang berbeda?
2008 Bertemu 1988
Salah satu bagian paling menyenangkan dari novel ini adalah benturan antara kehidupan Marissa tahun 2008 dengan dunia tahun 1988.
Bagi Marissa, banyak hal terasa aneh.
Mode pakaian berbeda.
Teknologi berbeda.
Harga barang berbeda.
Cara orang menikmati musik dan hiburan pun berbeda.
Ada Walkman, komputer generasi lama, permainan arcade, pakaian khas 1980-an, hingga berbagai makanan dan kebiasaan yang terasa asing bagi seseorang dari dua puluh tahun sesudahnya.
Penulis sendiri memang tampaknya sengaja menjadikan nuansa tersebut sebagai bagian penting buku. Pada halaman persembahan bahkan terdapat ucapan:
“Untuk kalian yang pernah mengalami tahun 80-an, selamat bernostalgia!”
Jadi bagi pembaca yang pernah tumbuh pada era tersebut, ada bonus nostalgia.
Sedangkan bagi pembaca yang lahir jauh setelah 1988?
Lumayan.
Kita bisa melihat masa ketika mendengarkan musik masih membutuhkan benda yang ukurannya sedikit lebih serius daripada sebuah aplikasi di ponsel. 😄
Marissa: Tokoh Utama yang Tidak Selalu Mudah Disukai
Salah satu hal yang justru membuat cerita terasa hidup adalah karakter Marissa sendiri.
Dia bukan tokoh utama yang sejak halaman pertama sudah bijaksana, dewasa, tenang, dan selalu mengambil keputusan benar.
Justru sebaliknya.
Marissa cukup emosional.
Kadang manja.
Impulsif.
Suka mengeluh.
Dan… punya hubungan yang cukup serius dengan makanan.
Tetapi menurut saya itu justru pilihan yang tepat.
Karena inti cerita seperti ini bukan tentang melihat seseorang yang sudah sempurna.
Kita mengikuti seseorang yang masih perlu berkembang.
Dan perjalanan ke masa lalu membuat Marissa harus menghadapi banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Ketika semua fasilitas yang biasa digunakan menghilang dan orang-orang yang dikenalnya bahkan belum mengenalnya, ia tidak lagi bisa sekadar bersembunyi di kamar dan meratapi Michael.
Mau tidak mau, Marissa harus beradaptasi.
Lalu Ada Wiliam
Di masa lalu, Marissa bertemu seorang anak laki-laki bernama Wiliam.
Usianya baru delapan tahun.
Tetapi jangan membayangkan bocah lucu yang langsung mengikuti Marissa sambil berkata, “Kakak dari masa depan, ya?”
Tidak.
Wiliam justru cukup dingin, sinis, mandiri, dan mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat Marissa kesal.
Pertemuan mereka bermula ketika Marissa menyelamatkannya dari sebuah situasi berbahaya. Namun alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih dramatis, Marissa justru harus menghadapi seorang bocah yang sama sekali tidak tertarik menerima perhatian darinya.
Dari sinilah muncul salah satu daya tarik terbesar novel:
chemistry antara Marissa dan Wiliam.
Keduanya seperti dua manusia yang seharusnya tidak cocok tetapi malah terus dipertemukan.
Marissa merasa dirinya lebih dewasa karena berusia delapan belas tahun.
Wiliam sering kali bertindak seolah justru dialah orang dewasa di antara mereka.
Percakapan mereka ringan, banyak saling sindir, dan cukup sering menghasilkan humor.
Misalnya ketika Marissa berusaha menjelaskan teknologi masa depan kepada Wiliam dan baru menyadari bahwa sebagian “kehebatan” tahun 2008 ternyata tidak semudah itu dipamerkan kepada anak tahun 1988.
Hubungan dua karakter inilah yang membuat novel tetap terasa hangat meskipun memiliki unsur fantasi.
Lebih dari Sekadar Cerita Patah Hati
Kalau hanya membaca bagian awal, 7 Hari Menembus Waktu mungkin terlihat seperti kisah seorang remaja yang patah hati lalu mendapat petualangan ajaib.
Tetapi tema novel ini sebenarnya cukup luas.
Ada tentang keluarga.
Ada kehilangan.
Ada proses menerima sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Ada hubungan antara orangtua dan anak.
Ada kesempatan kedua.
Dan tentu ada cinta, tetapi tidak melulu dalam pengertian cinta romantis.
Perjalanan Marissa memaksanya melihat bahwa persoalan hidup tidak selalu sebesar yang terasa ketika kita sedang berada tepat di tengah masalah tersebut.
Sakit hati memang nyata.
Tetapi dunia tetap lebih luas daripada seorang mantan pacar.
Kadang kita hanya terlalu sibuk menatap satu pintu yang tertutup sampai lupa bahwa di belakang kita masih ada rumah yang penuh orang-orang yang menyayangi kita.
Pesan seperti ini disampaikan cukup ringan tanpa membuat cerita berubah menjadi ceramah motivasi.
Kekuatan Utamanya Ada pada Hubungan Antartokoh
Menurut saya, bagian terbaik novel bukan konsep perjalanan waktunya.
Yang paling menarik justru interaksi antarkarakter.
Dialognya sederhana dan mudah diikuti.
Marissa dan Wiliam mempunyai karakter yang bertolak belakang sehingga interaksi mereka terasa hidup.
Selain itu, Charon tidak hanya memberikan satu lapisan pada tokoh-tokohnya.
Seseorang yang pada awalnya terlihat menyebalkan belum tentu sesederhana itu.
Orang yang tampak cuek bisa jadi sedang menyimpan sesuatu.
Dan seseorang yang kita anggap tidak memahami kita mungkin sebenarnya memiliki masalah yang sama sekali tidak kita ketahui.
Novel seperti mengajak pembaca untuk tidak terlalu cepat menilai orang hanya dari perilaku yang terlihat di permukaan.
Gaya Penulisannya Ringan dan Cepat
Dengan panjang sekitar 176 halaman, 7 Hari Menembus Waktu termasuk novel yang bisa dibaca relatif cepat.
Bahasanya sederhana.
Dialog cukup dominan.
Bab-babnya bergerak cepat dan hampir selalu membawa situasi baru.
Karena itu novel ini cocok untuk dibaca ketika sedang ingin menikmati cerita tanpa harus berkonsentrasi seperti membaca jurnal akademik.
Bahkan kalau dibawa membaca sambil minum kopi, kemungkinan kopinya belum habis tetapi babnya sudah berpindah beberapa kali.
Buku ini juga memang berada dalam wilayah teenlit.
Jadi jangan berharap dialog filosofis berat atau narasi sastra yang membutuhkan kamus di sebelah tangan.
Dan justru di situlah daya tariknya.
Ringan.
Mudah dicerna.
Tetapi tetap mempunyai muatan emosional.
Nostalgia Menjadi Bonus yang Menarik
Latar 1988 bukan cuma angka yang ditempelkan agar cerita bisa disebut perjalanan waktu.
Charon cukup sering memanfaatkan perbedaan zaman sebagai sumber humor sekaligus atmosfer.
Marissa membandingkan teknologi, fashion, makanan, permainan, dan kebiasaan masyarakat dengan apa yang ia kenal pada 2008.
Bagi pembaca muda, hal-hal tersebut bisa menjadi gambaran kecil tentang kehidupan dua dekade sebelumnya.
Bagi generasi yang pernah hidup di sana, beberapa bagian mungkin membuat tersenyum sendiri.
“Oh iya… dulu memang begitu.”
Dan mungkin setelah itu mulai menghitung umur.
Nah, bagian terakhir ini sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan. 😄
Apakah Ada Kekurangannya?
Tentu.
Pembaca yang menyukai time travel dengan aturan sangat rinci mungkin merasa konsep perjalanan waktunya terlalu sederhana.
Novel tidak terlalu sibuk menjelaskan mekanisme bagaimana seseorang berpindah waktu.
Tidak ada teori khusus mengenai paradoks waktu.
Tidak ada penjelasan ilmiah tentang mengapa lukisan tersebut mempunyai kemampuan seperti itu.
Tetapi saya rasa memang bukan itu yang ingin dikejar penulis.
Perjalanan waktu di sini berfungsi seperti sebuah alat untuk menggerakkan cerita dan perkembangan tokoh.
Selain itu, beberapa bagian mempunyai rasa teenlit yang sangat kuat.
Reaksi tokoh terkadang dramatis.
Humornya ringan.
Karakter utamanya sesekali membuat keputusan yang mungkin membuat pembaca ingin mengatakan:
“Marissa… tolong berpikir dulu lima detik.” 😄
Tetapi semua itu masih cocok dengan usia tokoh dan target pembacanya.
Yang Menarik: Buku Ini Tidak Mencoba Menjadi Terlalu Rumit
Ada novel fantasi yang ingin membuat kita terpukau dengan dunianya.
Ada novel perjalanan waktu yang membuat kita sibuk membuat diagram timeline.
7 Hari Menembus Waktu memilih jalan berbeda.
Premis fantastiknya justru digunakan untuk membicarakan hal-hal sederhana:
keluarga,
rasa kehilangan,
persahabatan,
cinta,
masa muda,
dan kesempatan untuk memperbaiki cara kita melihat kehidupan.
Dan mungkin karena itulah ceritanya mudah dinikmati.
Kita tidak perlu memahami fisika.
Cukup mengikuti Marissa memasuki tahun 1988 dan bertanya:
kalau kita berada di posisinya, apa yang akan kita lakukan?
Penutup
7 Hari Menembus Waktu adalah novel ringan dengan kombinasi fantasi, humor, nostalgia, keluarga, dan sedikit romansa.
Premis perjalanan waktunya menarik tanpa menjadi rumit, sementara hubungan antartokohnya menjadi bagian yang paling menyenangkan untuk diikuti.
Di balik segala kelucuan Marissa menghadapi dunia 1988, novel ini sebenarnya membawa pesan yang cukup hangat:
kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang hilang sampai tidak menyadari betapa banyak hal berharga yang sebenarnya masih kita miliki.
Dan mungkin itulah hal terbaik dari perjalanan waktu Marissa.
Bukan karena ia bisa melihat masa lalu.
Tetapi karena dengan melihat masa lalu, ia perlahan belajar menghargai masa kini.
Rating: 4,2/5 ⭐
Cocok untuk pembaca yang menyukai teenlit ringan, kisah keluarga, romansa yang tidak terlalu berat, nostalgia 1980-an, dan cerita perjalanan waktu yang bisa dinikmati tanpa harus menggambar garis waktu di atas kertas.
Satu saran kecil saja:
Kalau suatu hari sedang patah hati lalu menemukan lukisan tua yang katanya bisa mengabulkan permintaan…
mungkin pikirkan baik-baik dulu sebelum bicara.
Siapa tahu niat awal cuma ingin melupakan mantan, tetapi beberapa menit kemudian malah harus mencari jalan pulang dari tahun 1988. 😄
Ada yang menangis semalaman. Ada yang menghapus semua foto mantan. Ada yang tiba-tiba rajin olahraga. Ada juga yang mendadak membuat status penuh kutipan bijak seolah baru selesai mengikuti seminar motivasi tiga hari tiga malam.
Tapi nasib Marissa sedikit berbeda.
Gadis berusia delapan belas tahun ini sedang berada dalam salah satu periode paling menyebalkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan Michael kandas setelah tiga tahun berpacaran, dan situasi menjadi semakin tidak menyenangkan ketika Michael justru dekat dengan Selina—orang yang memang sejak awal tidak pernah akur dengannya.
Saat terpaksa menghadiri sebuah acara di Gedung Albatross, Marissa kembali bertemu dengan dua orang yang sebenarnya paling ingin ia hindari.
Patah hati, kesal, dan merasa orang-orang di sekitarnya tidak memahami perasaannya, Marissa memilih menjauh dari keramaian.
Lalu ia menemukan sebuah lukisan misterius.
Judulnya:
Menembus Waktu.
Menurut keterangan yang terpasang di bawahnya, lukisan tersebut konon mampu mengabulkan permohonan. Marissa tentu saja tidak percaya. Tetapi dalam kondisi emosi yang sedang berantakan, ia mengucapkan sesuatu di depan lukisan itu.
Dan setelah itu…
hidupnya berubah.
Karena ketika Marissa kembali menyadari keadaan di sekelilingnya, ia tidak lagi berada di tahun 2008.
Ia berada dua puluh tahun di masa lalu, tepatnya pada tahun 1988.
Nah, sampai di sini saja sinopsisnya.
Karena sisanya jauh lebih menyenangkan kalau ditemukan sendiri. 😄
Perjalanan Waktu Tanpa Membuat Kepala Pusing
Meskipun premis utama novel ini adalah perjalanan waktu, 7 Hari Menembus Waktu bukanlah fiksi ilmiah berat.
Tidak ada penjelasan panjang tentang relativitas.
Tidak ada mesin penuh kabel dan lampu berkedip.
Tidak ada ilmuwan berdiri di depan papan tulis sambil mengatakan,
“Secara teoritis, jika ruang-waktu melengkung—”
Tenang saja.
Konsep perjalanan waktu di sini digunakan sebagai jembatan untuk membawa tokoh utama memasuki pengalaman yang tidak mungkin ia peroleh dalam kehidupan normal.
Karena itulah pembaca yang biasanya menghindari genre science fiction tetap bisa menikmati novel ini dengan mudah.
Yang menjadi fokus bukanlah pertanyaan bagaimana seseorang bisa menembus waktu, melainkan:
apa yang terjadi ketika seseorang mendapatkan kesempatan melihat kehidupan dari sudut waktu yang berbeda?
2008 Bertemu 1988
Salah satu bagian paling menyenangkan dari novel ini adalah benturan antara kehidupan Marissa tahun 2008 dengan dunia tahun 1988.
Bagi Marissa, banyak hal terasa aneh.
Mode pakaian berbeda.
Teknologi berbeda.
Harga barang berbeda.
Cara orang menikmati musik dan hiburan pun berbeda.
Ada Walkman, komputer generasi lama, permainan arcade, pakaian khas 1980-an, hingga berbagai makanan dan kebiasaan yang terasa asing bagi seseorang dari dua puluh tahun sesudahnya.
Penulis sendiri memang tampaknya sengaja menjadikan nuansa tersebut sebagai bagian penting buku. Pada halaman persembahan bahkan terdapat ucapan:
“Untuk kalian yang pernah mengalami tahun 80-an, selamat bernostalgia!”
Jadi bagi pembaca yang pernah tumbuh pada era tersebut, ada bonus nostalgia.
Sedangkan bagi pembaca yang lahir jauh setelah 1988?
Lumayan.
Kita bisa melihat masa ketika mendengarkan musik masih membutuhkan benda yang ukurannya sedikit lebih serius daripada sebuah aplikasi di ponsel. 😄
Marissa: Tokoh Utama yang Tidak Selalu Mudah Disukai
Salah satu hal yang justru membuat cerita terasa hidup adalah karakter Marissa sendiri.
Dia bukan tokoh utama yang sejak halaman pertama sudah bijaksana, dewasa, tenang, dan selalu mengambil keputusan benar.
Justru sebaliknya.
Marissa cukup emosional.
Kadang manja.
Impulsif.
Suka mengeluh.
Dan… punya hubungan yang cukup serius dengan makanan.
Tetapi menurut saya itu justru pilihan yang tepat.
Karena inti cerita seperti ini bukan tentang melihat seseorang yang sudah sempurna.
Kita mengikuti seseorang yang masih perlu berkembang.
Dan perjalanan ke masa lalu membuat Marissa harus menghadapi banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Ketika semua fasilitas yang biasa digunakan menghilang dan orang-orang yang dikenalnya bahkan belum mengenalnya, ia tidak lagi bisa sekadar bersembunyi di kamar dan meratapi Michael.
Mau tidak mau, Marissa harus beradaptasi.
Lalu Ada Wiliam
Di masa lalu, Marissa bertemu seorang anak laki-laki bernama Wiliam.
Usianya baru delapan tahun.
Tetapi jangan membayangkan bocah lucu yang langsung mengikuti Marissa sambil berkata, “Kakak dari masa depan, ya?”
Tidak.
Wiliam justru cukup dingin, sinis, mandiri, dan mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat Marissa kesal.
Pertemuan mereka bermula ketika Marissa menyelamatkannya dari sebuah situasi berbahaya. Namun alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih dramatis, Marissa justru harus menghadapi seorang bocah yang sama sekali tidak tertarik menerima perhatian darinya.
Dari sinilah muncul salah satu daya tarik terbesar novel:
chemistry antara Marissa dan Wiliam.
Keduanya seperti dua manusia yang seharusnya tidak cocok tetapi malah terus dipertemukan.
Marissa merasa dirinya lebih dewasa karena berusia delapan belas tahun.
Wiliam sering kali bertindak seolah justru dialah orang dewasa di antara mereka.
Percakapan mereka ringan, banyak saling sindir, dan cukup sering menghasilkan humor.
Misalnya ketika Marissa berusaha menjelaskan teknologi masa depan kepada Wiliam dan baru menyadari bahwa sebagian “kehebatan” tahun 2008 ternyata tidak semudah itu dipamerkan kepada anak tahun 1988.
Hubungan dua karakter inilah yang membuat novel tetap terasa hangat meskipun memiliki unsur fantasi.
Lebih dari Sekadar Cerita Patah Hati
Kalau hanya membaca bagian awal, 7 Hari Menembus Waktu mungkin terlihat seperti kisah seorang remaja yang patah hati lalu mendapat petualangan ajaib.
Tetapi tema novel ini sebenarnya cukup luas.
Ada tentang keluarga.
Ada kehilangan.
Ada proses menerima sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Ada hubungan antara orangtua dan anak.
Ada kesempatan kedua.
Dan tentu ada cinta, tetapi tidak melulu dalam pengertian cinta romantis.
Perjalanan Marissa memaksanya melihat bahwa persoalan hidup tidak selalu sebesar yang terasa ketika kita sedang berada tepat di tengah masalah tersebut.
Sakit hati memang nyata.
Tetapi dunia tetap lebih luas daripada seorang mantan pacar.
Kadang kita hanya terlalu sibuk menatap satu pintu yang tertutup sampai lupa bahwa di belakang kita masih ada rumah yang penuh orang-orang yang menyayangi kita.
Pesan seperti ini disampaikan cukup ringan tanpa membuat cerita berubah menjadi ceramah motivasi.
Kekuatan Utamanya Ada pada Hubungan Antartokoh
Menurut saya, bagian terbaik novel bukan konsep perjalanan waktunya.
Yang paling menarik justru interaksi antarkarakter.
Dialognya sederhana dan mudah diikuti.
Marissa dan Wiliam mempunyai karakter yang bertolak belakang sehingga interaksi mereka terasa hidup.
Selain itu, Charon tidak hanya memberikan satu lapisan pada tokoh-tokohnya.
Seseorang yang pada awalnya terlihat menyebalkan belum tentu sesederhana itu.
Orang yang tampak cuek bisa jadi sedang menyimpan sesuatu.
Dan seseorang yang kita anggap tidak memahami kita mungkin sebenarnya memiliki masalah yang sama sekali tidak kita ketahui.
Novel seperti mengajak pembaca untuk tidak terlalu cepat menilai orang hanya dari perilaku yang terlihat di permukaan.
Gaya Penulisannya Ringan dan Cepat
Dengan panjang sekitar 176 halaman, 7 Hari Menembus Waktu termasuk novel yang bisa dibaca relatif cepat.
Bahasanya sederhana.
Dialog cukup dominan.
Bab-babnya bergerak cepat dan hampir selalu membawa situasi baru.
Karena itu novel ini cocok untuk dibaca ketika sedang ingin menikmati cerita tanpa harus berkonsentrasi seperti membaca jurnal akademik.
Bahkan kalau dibawa membaca sambil minum kopi, kemungkinan kopinya belum habis tetapi babnya sudah berpindah beberapa kali.
Buku ini juga memang berada dalam wilayah teenlit.
Jadi jangan berharap dialog filosofis berat atau narasi sastra yang membutuhkan kamus di sebelah tangan.
Dan justru di situlah daya tariknya.
Ringan.
Mudah dicerna.
Tetapi tetap mempunyai muatan emosional.
Nostalgia Menjadi Bonus yang Menarik
Latar 1988 bukan cuma angka yang ditempelkan agar cerita bisa disebut perjalanan waktu.
Charon cukup sering memanfaatkan perbedaan zaman sebagai sumber humor sekaligus atmosfer.
Marissa membandingkan teknologi, fashion, makanan, permainan, dan kebiasaan masyarakat dengan apa yang ia kenal pada 2008.
Bagi pembaca muda, hal-hal tersebut bisa menjadi gambaran kecil tentang kehidupan dua dekade sebelumnya.
Bagi generasi yang pernah hidup di sana, beberapa bagian mungkin membuat tersenyum sendiri.
“Oh iya… dulu memang begitu.”
Dan mungkin setelah itu mulai menghitung umur.
Nah, bagian terakhir ini sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan. 😄
Apakah Ada Kekurangannya?
Tentu.
Pembaca yang menyukai time travel dengan aturan sangat rinci mungkin merasa konsep perjalanan waktunya terlalu sederhana.
Novel tidak terlalu sibuk menjelaskan mekanisme bagaimana seseorang berpindah waktu.
Tidak ada teori khusus mengenai paradoks waktu.
Tidak ada penjelasan ilmiah tentang mengapa lukisan tersebut mempunyai kemampuan seperti itu.
Tetapi saya rasa memang bukan itu yang ingin dikejar penulis.
Perjalanan waktu di sini berfungsi seperti sebuah alat untuk menggerakkan cerita dan perkembangan tokoh.
Selain itu, beberapa bagian mempunyai rasa teenlit yang sangat kuat.
Reaksi tokoh terkadang dramatis.
Humornya ringan.
Karakter utamanya sesekali membuat keputusan yang mungkin membuat pembaca ingin mengatakan:
“Marissa… tolong berpikir dulu lima detik.” 😄
Tetapi semua itu masih cocok dengan usia tokoh dan target pembacanya.
Yang Menarik: Buku Ini Tidak Mencoba Menjadi Terlalu Rumit
Ada novel fantasi yang ingin membuat kita terpukau dengan dunianya.
Ada novel perjalanan waktu yang membuat kita sibuk membuat diagram timeline.
7 Hari Menembus Waktu memilih jalan berbeda.
Premis fantastiknya justru digunakan untuk membicarakan hal-hal sederhana:
keluarga,
rasa kehilangan,
persahabatan,
cinta,
masa muda,
dan kesempatan untuk memperbaiki cara kita melihat kehidupan.
Dan mungkin karena itulah ceritanya mudah dinikmati.
Kita tidak perlu memahami fisika.
Cukup mengikuti Marissa memasuki tahun 1988 dan bertanya:
kalau kita berada di posisinya, apa yang akan kita lakukan?
Penutup
7 Hari Menembus Waktu adalah novel ringan dengan kombinasi fantasi, humor, nostalgia, keluarga, dan sedikit romansa.
Premis perjalanan waktunya menarik tanpa menjadi rumit, sementara hubungan antartokohnya menjadi bagian yang paling menyenangkan untuk diikuti.
Di balik segala kelucuan Marissa menghadapi dunia 1988, novel ini sebenarnya membawa pesan yang cukup hangat:
kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang hilang sampai tidak menyadari betapa banyak hal berharga yang sebenarnya masih kita miliki.
Dan mungkin itulah hal terbaik dari perjalanan waktu Marissa.
Bukan karena ia bisa melihat masa lalu.
Tetapi karena dengan melihat masa lalu, ia perlahan belajar menghargai masa kini.
Rating: 4,2/5 ⭐
Cocok untuk pembaca yang menyukai teenlit ringan, kisah keluarga, romansa yang tidak terlalu berat, nostalgia 1980-an, dan cerita perjalanan waktu yang bisa dinikmati tanpa harus menggambar garis waktu di atas kertas.
Satu saran kecil saja:
Kalau suatu hari sedang patah hati lalu menemukan lukisan tua yang katanya bisa mengabulkan permintaan…
mungkin pikirkan baik-baik dulu sebelum bicara.
Siapa tahu niat awal cuma ingin melupakan mantan, tetapi beberapa menit kemudian malah harus mencari jalan pulang dari tahun 1988. 😄